Agen Bola | Casino | Bola Tangkas | Togel

Sebenarnya saya sudah tidak layak lagi disebut sebagai penggemar Liga Primer, kalau ukurannya menonton langsung ke stadion. Sudah tiga atau empat tahun terakhir ini saya tidak pernah menonton langsung, baik itu untuk klub yang saya dukung maupun pertandingan yang saya anggap menarik.

Terlalu mahal. Apalagi kalau anak dan istri ikut, urusan dapur langsung kacau total. Nonton satu pertandingan bertiga, efek kacaunya bisa berminggu-minggu.

Berdasar survey tahun lalu, oleh Liga Primer Inggris dipukul rata satu penonton di stadion menghabiskan antara 100-150 poundsterling (atau sekitar Rp 2 jutaan) untuk menonton ke stadion. Itu komplit, dari tiket uang transpor, uang makan dan membeli cindera mata yang murah-murah. Kalau harus beli kaos, jaket dan aksesori beratribut klub yang mahal-mahal, tentu akan lebih banyak lagi.

Kalau harus menonton empat kali sebulan, belum terhitung Piala FA, Piala Liga, Liga Champions dan Liga Europa bagi yang terlibat di dalamnya, jumlahnya cukup menyesakkan dada. Hitunglah pendapatan kelas menengah Inggris ini rata-rata sekitar £2.500/bulan, seperempat pendapatan sudah langsung habis hanya untuk bola (!).

Saya juga tidak lagi menonton lewat layar televisi. Liga Primer di Inggris hanya bisa ditonton lewat saluran berlangganan semacam Sky atau ESPN yang tidak murah, sekitar £50 per bulannya. Setelah menemukan saluran gratis streaming internet dua tahun lalu, saluran olahraga di rumah kami putus. Satu-satunya kesetiaan yang saya jaga hanyalah mendengar siaran radio yang tujuh hari seminggu melakukan ulasan-ulasan bola (dan siaran pertandingan langsung tentunya), baca koran atau buku.

Kalau ingin menonton pertandingan tertentu saya tinggal menelpon teman yang memiliki tiket musiman untuk klub itu dan bertanya apakah ada teman yang sedang berhalangan menonton dan bisa saya gunakan tiket musimannya. Untuk yang seperti ini saya hanya harus membayar tambahan sekitar £15 kepada pemilik tiket, atau berdasar kesepakatan. Kalau harga resminya katakanlah £40, maka saya membayar £55 kepada yang bersangkutan.

Kedua, berusaha membeli lewat klub yang menjadi tuan rumah pertandingan. Istilahnya, membeli Match Day Tickets. Harganya sesuai dengan yang ditetapkan oleh klub. Tetapi membeli Match Day Tickets ini seperti menonton aksi sulap menyulap. Selama saya hidup di London ini belum pernah saya berhasil mendapatkannya. Mungkin karena saya hanya mau menonton klub-klub besar. Tiket mereka ini sepertinya selalu habis sebelum loket dibuka, baik ketika secara fisik datang ke stadion ataupun lewat internet.

Yang paling sering saya lakukan adalah langsung datang ke stadion dan memanfaatkan pasar gelap alias calo. Mereka ini akan sangat berhati-hati menawarkan tiket yang mereka punya, karena percaloan dilarang dan kalau ketahuan, baik pembeli maupun calo, akan ditangkap polisi yang berseliweran. Paling gampang masuk saja ke pub-pub yang bertebaran di dekat stadion. Jaringan calo selalu ada di sana.

Sebetulnya tiket yang ditawarkan adalah tiket musiman atau Match Day Tickets juga, hanya kemudian ada jaringan (tidak resmi) yang menjualkannya. Ini mafia pertiketan dan harganya jauh lebih mahal. Bisa £30 hingga £100 lebih mahal dari harga aslinya, tergantung kemampuan menawar. Saya biasa membeli kalau pertandingan sudah kira-kira lima menit berlangsung, karena ketimbang tidak laku harganya kemudian dibanting murah. Hampir sama dengan harga aslinya.

Cara lain, dan ini yang paling mahal tapi aman dibanding datang ke stadion, adalah lewat agen penjualan resmi non-klub. Enaknya adalah kita bisa memilih untuk membeli tiket dengan tempat duduk sesuai dengan bagian klub yang kita dukung. Tidak enaknya adalah sistem penjualannya seperti sistem lelang. Semakin sedikit tersedia, semakin mahal harga tiketnya. Kadang-kadang harganya bisa mencapai lebih dari £150.

Sekarang bahkan untuk menonton klub-klub “kecil” di Liga Primer juga semakin mahal. Persoalannya sederhana: godaan untuk mempertaruhkan segalanya agar bisa bertahan di Liga Primer terlalu besar. Bagi klub-klub kecil, Liga Primer semenjak era komersialisasi bola dengan suntikan dana yang berlimpah dari penjualan hak tayang pertandingan, potensi sponsor dan bagi hasil keuntungannya adalah ladang emas. Hanya sedikit klub yang bisa berkepala dingin dan menggunakan akal sehat untuk tidak membabi buta melihat (potensi) uang yang berlimpah itu.

Entah mengapa kebanyakan klub kecil selalu melihat satu-satu caranya untuk bisa bertahan di Liga Primer dan bersaing dengan yang lain adalah dengan membeli pemain-pemain bagus (dan berharga mahal). Untuk menarik para pemain ini, ditawarkan gaji di luar kewajaran — paling tidak di luar kewajaran klub kecil. Di luar kemampuan seandainya mereka tetap di luar Liga Primer.

Tetapi klub-klub kecil sepertinya lupa bahwa pada dasarnya Liga Primer terbagi dalam dua kelas yang berbeda. Klub-klub besar yang berada di papan atas mempunyai sumber pemasukan yang luar biasa besar, bukan sekadar dari keanggotaan mereka di Liga Primer semata, sedangkan klub kecil dengan pemasukan dari Liga Primer saja. Klub-klub besar itu mempunyai pasar komersial di seluruh dunia yang bisa mereka eksploitasi habis-habisan, terlibat di kompetisi Eropa yang berarti ada pemasukan lain yang tak kalah besar dari Liga Utama, posisi tawar yang kuat dengan sponsor, dan tentu saja pendukung domestik yang kuat dan besar. Klub-klub besar bisa membeli pemain mahal dan bagus karena pemasukan mereka memang berlimpah.

Lalu ke mana klub kecil ini harus mencari dana tambahan? Ke mana lagi kalau bukan ke pendukung klub. Harga tiket dinaikkan, begitupun dengan harga cindera mata, maupun segala sesuatu yang bisa mendatangkan uang. Namun kekuatan finansial pendukung juga terbatas. Akibatnya, bukannya pemasukan bertambah tetapi pendukung malah menyusut karena mereka tidak kuat lagi untuk datang ke stadion.

Tak mengherankan kalau saat ini di Inggris semakin banyak lapisan (menengah ke) bawah tersingkir dari stadion-stadion bola. Tersingkir bukan menyingkirkan diri. Sepakbola tetap mengurat akar di hati tetapi mereka hanya bisa memandang stadion bukan berada di dalamnya. Lapisan sosial yang lebih mampu dalam strata sosial di Inggris perlahan telah mengambil alihnya. Celakanya, kebanyakan dari mereka ini lebih senang mendukung hanya klub-klub besar dan bukan klub-klub kecil. Karenanya pendukung klub besar terus membesar sementara pendukung klub kecil terus menerus menyusut.

Terus terang, bagi saya pribadi godaan untuk menonton langsung hingga sekarang selalu saja muncul. Kerinduan untuk berada di tengah penonton, bersorak, bernyanyi, saling ejek, emosi yang naik turun, pompaan adrenalin dan ekstase ketika gol tercipta tak ubahnya candu yang sangat sulit untuk diberangus dari darah.

Sejujurnya, selama empat tahun puasa menonton bola, beberapa kali saya datang ke stadion tergoda untuk menonton. Beruntung akal sehat saya selalu akhirnya bisa mengendalikan kemauan. Yang beberapa kali itu berujung dengan berpenuh sesak menonton televisi di pub-pub yang banyak bertebaran di seputar stadion. Lumayan, dengan modal gelas minuman seharga 3 pound di tangan, gemuruh sorakan dari stadion masih terdengar membahana mengiringi tontonan yang ada di televisi. Seperti makan berlauk tahu tempe di samping orang yang membakar sate, cukup menambah selera makan dengan sekadar menghirup baunya.

 

Source: Detiksport

Bursa taruhan bola

Panduan Pasaran bola

Blog judi